Bismillah,,Alhamdulillah,,sholli
‘alaarosulillah,,,amma ba’d
Ulasan selanjutnya,,,,,,,,
Kelompok
tanpa pemimpin sehingga tidak ada koneksi petunjuk arah tujuanya, sebab
kelompok yang demikian adalah seperti situasi seseorang yang berjalan
ditengah-tengah padang yang luas, liar, sinyal-sinyal petunjuk arah yang selalu
samar dan juga menakutkan, seperti dipadang yang luas hingga tanah dan
langitnya serupa warnanya.
Kelompok
atau suatu kaum yang pemimpinya mabuk kepayang bersahwat menjadi pemimpin, akan
berimbas negative, lebih-lebih sikap dan sifat ini di miliki oleh anggota kaum
atau kelompok itu,maka kondisi kaum itu akan masuk dalam situasi yang tidak terurus dan lebih dari kerusakanya.
Sikap senang
menjadi pemimpin itu, menjadi penyakit di antara bangsa-bangsa timur, sikap ini
demikian merusak, secara terang berebut menjadi pimpinan, inilah penyakitny,
sulit sekali dicari obatnya. Para pimpinan di derah timur rata-rata cenburu
terhadap kaum, juga sakit yang
dirasakanya, betapa tidak adanya gerakan
menggalang kekuatan yang hanya ingin menantang
an menyakiti hati para pemimpinya.
Jika halnya
demikian, maka apabila pemimpinya adalah pemimmpin sejati ,maka tentunya
gerakan yang demikian tiadaklah akan ditanggapi tetap waspada dalam bijak.
Tetapi tetap brerjalan diatas rel untuk kemakmuran masyarakat yang dipimpinya,
tidak merisaukan keadaan gawat yang merintanginya, tidak goyang akan kerumitan
dan kesulitan.
Tetapi jika
hanya ada sedikit tantangan, pemimpin itu goyah, maka sikap ini adalah cermin
kelemahan kwalitasnya, atau kurang bijak. Maka sudah semestinya jika orang yang
demikian sikapnya janganlah dijadikan pemimpin masyarakat.
Sangat
langka ada orang yang tidak ingin menjadi pimpinan , dan bahkan orang yang ahli
memimpin itu sangat sedikit, sebab kepemimpinan
itu bukan seperti barang dagangan yang dijualbelikan dan bukan seperti baju
yang apabila dipakai terus berubah menjadi pimpinan???, namun pimpinan adalah
ruh dan nyawa masyrakat bangsa itu sendiri.
Apakah ada
masyarakat yang senang? , jika pemimpinya adalah si lemah bin apes atau si
dholal bin fahal, atau si sesat bin hiyanat atau si fasik bin maksiat. Setiap
pimpinan yang diduduki oleh orang “brama curah” yang tiada treck record” tanpa
pendirian, maka bias dijamin bahwa
masyarakat atau bangsa itu akan bangkrut, bobrok dan akhirnya lahir kerusakan-kerusakan.
Pemimpin
bukan diperoleh dengan cara beli suara yang disebar oleh pengikutnya dengan
tujuan supaya masyarakat memilihnya. Dan pemimpin akan lahir dari tabiat
sikap sesorang yang mashur dikenal
seantero pelosok negeri berkaitan dengan sifat- sikapnya yang utama,
#yang malas untuk berperilaku buruk
# bersih
dari pamrih akan sikap-sikapnya
# tabah
hatinya
#luhur
cita-citanya
#cerdas
akalnya
#terjaga
batinya
#jelas
terlihat budi pekertinya
#Mengerti
apa yang menjadi kebutuhan masyarakat
#usahanya
menguntungkan masyarakat
#usahanya
mengangkat derajat masyarakat
Jika ada
watak sikap yang demikian barulah dapat di promosikan sebagai pemimpin
sekaligus tokoh di masyarakat. Maka
segala ucapanya akan diikuti masyarakat sekaligus menggerakkan kepada derajat
kemajuan.
Dan
kenyataan lagi ,mengenai kelas yang lain, kelas ini dalam komunitas juga
merupakan kompetitor , berusaha keras supaya terangkat menjadi pemimpin, akan
teapi kalah tidak berhasil enjadi nomor satu, karena kekalahanya itu akibat
partisipasinya dalam berjuang adalah kurang dari porsinya, kemudian hal ini
menampakkan kelas baru yaitu golongan oposisi yang hari demi harinya adalah mengkritik, tetapi
kritikanya itu kadang kurang sepadan yang akhirmya hanya merong-rong kehormatan dan kewibawaan belaka.
Golongan
ini kadang kurang sepadan di garis
oposisinya, terlena menjadi pengkritik yang akhirnya akan menampakkan rahasia
keburukanya sendiri. Yang akhirnya akan dijauhi simpatik namun dekat dengan
penolakan atas kehadiranya oleh masyarakat.
Kelas
ekstrim yang terakhir ini adalah golongan yang gagal dalam usahanya menjadi
pimpinan, tetapi yang jadi jalanya adalah merekrut memakai simbul-simbul agama, sementara pihak ini sebenarnya
memusuhi agama, kemudian berani mengkafir-kafirkan pihak lain yang tidak sejalan
denganya, menganggap bahwa pihak lain
lah yang menyeleweng dari agama.
Kemudian secara bodoh panjang lebar mencela pemimpin lain atas nama agama, tetapi
yang terjadi adalah ketika
ditengah-tengah masyarakat ,penampilanya yang kelihatan sungguh-sungguh
malah dijauhi oleh mesyarakatnya yang kemudian ditinggalkanya.
Wal hasil;
sebagai perspektif , maka lapisan pemuda
generasi masa depan , semoga selalu waspada akan tragedy buruk suksesi
kepemimpinan, kelak semoga di jaga oleh ALLOH generasi muda kita, siap
berkemajuan, mamlakah sifat-sifat kewiraan dan keutamaan.
Semoga dijauhkan
sifat suka menjadi pemimpin tetapi punya keperwiraan siap jika diberi amanah
berjuang memancar luaskan sifat-sifat utama akhlakul karimah, hati selalu
terjaga untuk tidak selalu ingin mendambakan menjadi pemimpin yang oportunis
sesaat, namun menjadi benteng masyarakat penggerak masyarakat tanpa pamrih,
lebih dekat menjadi kaki tangan membantu
tegaknya ahli pemimpin yang bener-benar ahli, sehingga tujuan kemaslhatan
masyarakat dan bangsa menjadi lebih baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar