Selasa, 22 Maret 2016

Al ghulayaini :menjadi orang nomor satu?



Bismillah,,Alhamdulillah,,sholli ‘alaarosulillah,,,amma ba’d


Ulasan selanjutnya,,,,,,,,
Kelompok tanpa pemimpin sehingga tidak ada koneksi petunjuk arah tujuanya, sebab kelompok yang demikian adalah seperti situasi seseorang yang berjalan ditengah-tengah padang yang luas, liar, sinyal-sinyal petunjuk arah yang selalu samar dan juga menakutkan, seperti dipadang yang luas hingga tanah dan langitnya serupa warnanya.

Kelompok atau suatu kaum yang pemimpinya mabuk kepayang bersahwat menjadi pemimpin, akan berimbas negative, lebih-lebih sikap dan sifat ini di miliki oleh anggota kaum atau kelompok itu,maka kondisi kaum itu akan masuk dalam situasi yang  tidak terurus dan lebih dari kerusakanya.

Sikap senang menjadi pemimpin itu, menjadi penyakit di antara bangsa-bangsa timur, sikap ini demikian merusak, secara terang berebut menjadi pimpinan, inilah penyakitny, sulit sekali dicari obatnya. Para pimpinan di derah timur rata-rata cenburu terhadap kaum, juga sakit  yang dirasakanya, betapa tidak  adanya gerakan menggalang kekuatan yang hanya ingin menantang  an menyakiti hati para pemimpinya.

Jika halnya demikian, maka apabila pemimpinya adalah pemimmpin sejati ,maka tentunya gerakan yang demikian tiadaklah akan ditanggapi tetap waspada dalam bijak. Tetapi tetap brerjalan diatas rel untuk kemakmuran masyarakat yang dipimpinya, tidak merisaukan keadaan gawat yang merintanginya, tidak goyang akan kerumitan dan kesulitan.
Tetapi jika hanya ada sedikit tantangan, pemimpin itu goyah, maka sikap ini adalah cermin kelemahan kwalitasnya, atau kurang bijak. Maka sudah semestinya jika orang yang demikian sikapnya janganlah dijadikan pemimpin masyarakat.

Sangat langka ada orang yang tidak ingin menjadi pimpinan , dan bahkan orang yang ahli memimpin itu  sangat sedikit, sebab kepemimpinan itu bukan seperti barang dagangan yang dijualbelikan dan bukan seperti baju yang apabila dipakai terus berubah menjadi pimpinan???, namun pimpinan adalah ruh dan nyawa masyrakat bangsa itu sendiri.

Apakah ada masyarakat yang senang? , jika pemimpinya adalah si lemah bin apes atau si dholal bin fahal, atau si sesat bin hiyanat atau si fasik bin maksiat. Setiap pimpinan yang diduduki oleh orang “brama curah” yang tiada treck record” tanpa pendirian,  maka bias dijamin bahwa masyarakat atau bangsa itu akan bangkrut, bobrok dan akhirnya lahir kerusakan-kerusakan.

Pemimpin bukan diperoleh dengan cara beli suara yang disebar oleh pengikutnya dengan tujuan supaya masyarakat memilihnya. Dan pemimpin akan lahir dari tabiat sikap  sesorang yang mashur dikenal seantero pelosok negeri berkaitan dengan sifat- sikapnya yang utama,

 #yang malas untuk berperilaku buruk
# bersih dari pamrih akan sikap-sikapnya
# tabah hatinya
#luhur cita-citanya
#cerdas akalnya
#terjaga batinya
#jelas terlihat budi pekertinya
#Mengerti apa yang menjadi kebutuhan masyarakat
#usahanya menguntungkan masyarakat
#usahanya mengangkat derajat masyarakat

Jika ada watak sikap yang demikian barulah dapat di promosikan sebagai pemimpin sekaligus tokoh  di masyarakat. Maka segala ucapanya akan diikuti masyarakat sekaligus menggerakkan kepada derajat kemajuan. 

Dan kenyataan lagi ,mengenai kelas yang lain, kelas ini dalam komunitas juga merupakan kompetitor , berusaha keras supaya terangkat menjadi pemimpin, akan teapi kalah tidak berhasil enjadi nomor satu, karena kekalahanya itu akibat partisipasinya dalam berjuang adalah kurang dari porsinya, kemudian hal ini menampakkan kelas baru yaitu golongan oposisi yang  hari demi harinya adalah mengkritik, tetapi kritikanya itu kadang kurang sepadan yang akhirmya hanya merong-rong  kehormatan dan kewibawaan belaka. 

Golongan ini  kadang kurang sepadan di garis oposisinya, terlena menjadi pengkritik yang akhirnya akan menampakkan rahasia keburukanya sendiri. Yang akhirnya akan dijauhi simpatik namun dekat dengan penolakan atas kehadiranya oleh masyarakat. 

Kelas ekstrim yang terakhir ini adalah golongan yang gagal dalam usahanya menjadi pimpinan, tetapi yang jadi jalanya adalah merekrut memakai simbul-simbul  agama, sementara pihak ini sebenarnya memusuhi agama, kemudian berani mengkafir-kafirkan pihak lain yang tidak sejalan denganya, menganggap bahwa  pihak lain lah yang menyeleweng dari agama. 

Kemudian secara bodoh panjang lebar  mencela pemimpin lain atas nama agama, tetapi yang terjadi adalah ketika  ditengah-tengah masyarakat ,penampilanya yang kelihatan sungguh-sungguh malah dijauhi oleh mesyarakatnya yang kemudian ditinggalkanya.

Wal hasil; sebagai perspektif , maka lapisan pemuda  generasi masa depan , semoga selalu waspada akan tragedy buruk suksesi kepemimpinan, kelak semoga di jaga oleh ALLOH generasi muda kita, siap berkemajuan, mamlakah sifat-sifat kewiraan dan keutamaan. 

Semoga dijauhkan sifat suka menjadi pemimpin tetapi punya keperwiraan siap jika diberi amanah berjuang memancar luaskan sifat-sifat utama akhlakul karimah, hati selalu terjaga untuk tidak selalu ingin mendambakan menjadi pemimpin yang oportunis sesaat, namun menjadi benteng masyarakat penggerak masyarakat tanpa pamrih, lebih dekat menjadi kaki tangan  membantu tegaknya ahli pemimpin yang bener-benar ahli, sehingga tujuan kemaslhatan masyarakat dan bangsa menjadi lebih baik.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar